Beli Rumah Saat Rupiah Melemah Bagian 1

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membuat stabilitas perekonomian Indonesia terguncang. Hingga saat ini (9/10) mata uang rupiah merosot di angka Rp13.860 per dolar AS. Ini tentu saja membuat sektor yang berbasis impor, seperti otomotif, farmasi, dan kimia terkapar. Tak hanya itu, imbas kemerosotan nilai rupiah ini juga dirasakan oleh para pelaku bisnis di sektor properti. Para pengembang dan investor pun ketar-ketir dibuatnya. Namun, tak demikian dengan proyek hunian kelas menengah.

Imbas Pada Hunian Mbr

Menurut Eddy Ganefo, Ketua APERSI (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia), secara menyeluruh sektor properti saat ini sedang mengalami keterpurukan, terutama untuk rumah menengah-atas dan proyek komersil (gedung perkantoran, apartemen kelas menengah-atas, dan lainnya) yang mematok harga beli/sewa di atas Rp1 milyar. Sebaliknya, untuk perumahan di bawah Rp1 milyar atau rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) imbasnya tidak terlalu terasa.

Bahkan, diakui Eddy, pertumbuhan sektor properti untuk rumah MBR mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya. “Walaupun harus diakui secara keseluruhan sektor properti kita sedang anjlok, bila dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini pertumbuhan rumah MBR mengalami kenaikan,” tuturnya menjelaskan. Hal tersebut dibenarkan Indra W. Antono, Marketing Direktur PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Ia menjelaskan meski tahun ini harus teliti dan waspada, melemahnya nilai tukar rupiah ini tak menyurutkan prospek hunian untuk kelas menengah. Pasalnya, proyek hunian kelas menengah ini masih menggunakan material dan produk lokal yang dapat dengan mudah diperoleh, sehingga ongkos pembangunan masih dapat ditekan. Berbeda dengan proyek komersial.

Material bangunannya masih mengandalkan produk impor sehingga hal tersebut mempengaruhi bujet operasional pembangunan. Menurut Indra, proyek APLN berbasis hunian kelas menengah atau di bawah Rp500 jutaan masih terus berlanjut bahkan sudah memasuki tahap akhir. Beberapa proyek di luar Jakarta pun terus dikembangkan.

Meski demikian, diakui Indra angka penjualan yang mengalami penurunan ini dianggap sebagai hal yang wajar. “Daya beli masyarakat memang sedang melemah, tetapi ini wajar. Masyarakat saat ini sedang dalam situasi waspada. Mereka masih menunggu dan memantau kondisi hingga berangsur normal. Menurut saya ini sering terjadi pada kondisi ekonomi seperti sekarang,” ujar Indra.

Rumah kurang lengkap jika tidak ada sebuah genset sebagai sumber listrik alternatif. Genset dengan harga murah untuk rumah tangga bisa didapatkan dari toko distributor genset silent 1500 kva di Jakarta. salah satu distributor resmi genset silent di Jakarta adalah PT. Rajawali Indo yang memberikan harga diskon dan bergaransi untuk setiap pembelian unit baru.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *