Benarkah Si Kecil Melihat Hantu Bagian 2

Sosok Penakut

Menurut Esther, fantasi melihat “hantu” ini memiliki dampak negatif yang cukup besar. Misal, si prasekolah selalu ketakutan pada sesuatu yang sebetulnya tidak nyata. Saking ketakutannya, anak bisa saja menjadi kurang tidur, tidak nafsu makan sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Atau aktivitas belajarnya menjadi ikut terganggu.

Dampak lain, ia bisa menjadi sosok penakut; khawatir kalau hantu mengikutinya kemana pun pergi. Ia akan takut tidur sendiri, ke kamar mandi sendiri, ke ruang lain sendiri, atau lainnya. Ketakutannya akan hantu ini akan membuatnya jadi selalu bergantung pada orang lain karena ia harus ditemani kemana pun pergi. Karena ketakutan ini pula, daya ekplorasinya terganggu. Padahal di usia prasekolah, anak sedang bersemangat mencoba hal-hal baru.

Berlarian dari dalam rumah ke taman, memetik daun dan bunga, memerhatikan pohon-pohon, bermain dengan hewan peliharaan, dan sebagainya. Si prasekolah jadi kehilangan pengalaman seru, informatif, serta stimulus yang bermanfaat. Tak hanya itu, ketakutan ini juga bisa membuat si prasekolah tidak memiliki percaya diri yang baik. Sebab ia selalu merasa tidak nyaman di mana pun ia berada.

Ajak Berpikir Nyata

Esther menyarankan jika si prasekolah masih takut hantu, orangtua perlu membantu anak untuk mengatasinya. Karena idealnya, ketika memasuki usia prasekolah, fantasi-fantasi tentang hal-hal abstrak perlahan sudah hilang. Esther menjabarkan caracaranya sebagai berikut:

  • Ketika anak ketakutan karena merasa melihat hantu, tak perlu memojokkannya. “Mana ada hantu, kamu pengecut sekali”, “Ah, kamu sudah gede kok, penakut”, “Siang-siang mana ada hantu”, “Kamu bohong, enggak ada itu hantu”, dan sebagainya. Hal ini tidak akan membantu anak mengatasi masalahnya karena ia akan tetap merasa ketakutan.
  • Peluklah ia dan tekankan bahwa kita ada di samping anak dan siap melindunginya.
  • Ajak si prasekolah berpikir rasional. Anak yang ketakutan karena merasa melihat kelebatan di jendela malam hari, perlu mendapat penjelasan bahwa yang bergerak-gerak adalah daun dari pohon yang ditiup angin.

Ajak ia untuk melihat keluar demi memastikannya. “Kamu lihat sendiri, yang bergerakgerak itu daun karena ditiup angin. Apa pun yang kena angin pasti bergerak. Ayunan di sekolah pintu di toilet, semuanya bergerak kalau angin. Jadi bukan karena didorong hantu.”

  • Ia perlu tahu bahwa hantu itu tidak ada dan apa yang ia lihat hanya fantasi. “Kemarin, kan Kakak menonton ­ lm hantu. Nah, sekarang masih terus teringat-ingat. Jadi Kakak ketakutan sendiri!”
  • Jika sebelumnya ada anggota keluarga yang sering menakut-nakuti anak, segera hentikan. Seringnya ditakutitakuti akan membuat anak semakin sering berfantasi buruk.
  • Kalau kita ingin anak mau makan, jelaskan dengan hal-hal positif, bukan dengan ditakut-takuti hantu. “Kakak kan ingin jadi anak sehat dan kuat, yuk kita makan!” Bukan, “Kalau Kakak enggak mau makan, nanti malam hantunya datang, lo!”
  • Segera ganti channel teve saat ada ­ lm/sinetron tentang hantu. Si prasekolah seharusnya mendapat tayangan-tayangan edukasi yang sesuai dengan usianya, bukan tontonan-tontonan yang menakutkan. Demikian pula dengan dongeng, pilihkan yang ringan, seru, mengasyikan, yang memiliki pesan moral. Selain membuat anak senang, nilai-nilai positif pun didapat anak.

Simak juga informasi mengenai dunia anak di situs parenting dan pendidikan anak yang bisa diakses secara online. Agar orangtua mendapatkan banyak wawasan mengenai dunia anak dan parenting.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *