”Deni, kita main ayunan di bawah pohon itu, yuk!” ajak Mika. Mata Deni melirik tajam ke arah ayunan tersebut dan segera menolak permintaan Mika. “Enggak mau, ah! Di ayunan itu kan ada hantunya. Lihat aja ayunannya goyang-goyang sendiri. Hiii….serem.”

Seharusnya Sudah Hilang

Benarkan anak melihat hantu? Psikoterapis asal Texas, Caren Goode dalam bukunya Kids Who See Ghost, berpendapat beberapa anak memang bisa melihat makhluk halus. Ciri-ciri anak yang benar-benar melihat hantu, secara re?eks ia akan berteriak memanggil atau berlari mencari orangtua dengan ekspresi ketakutan, wajah pucat, sambil menangis.

Orangtua akan memahami betul apakah ekspresi ketakutan itu benar atau tidak, jika benar kita perlu curiga kalau anak memang benar-benar melihat hantu. Namun menurut Esther Lianawaty, Psi kajian tentang hantu tidak ditemukan dalam ilmu psikologi. Jika anak mendengar atau melihat hantu, itu sebatas fantasi atau imajinasinya. Di usia 1—3 tahun, daya fantasi anak masih sangat kuat akibat perkembangan inteligensinya.

Mereka sudah dapat membayangkan sesuatu tanpa perlu melihat bentuk konkretnya. Meski begitu, imajinasi atau fantasinya sangat dipengaruhi oleh masukan-masukan yang diterima anak. Kalau mereka membayangkan soal hantu, berarti sebelumnya mereka pernah menerima (dalam bentuk cerita atau melihat flm), tentang sosok hantu ini. Daya fantasi sebenarnya akan perlahan menghilang di usia 4—5 tahun, diganti dengan kemampuan berpikir nyata/riil.

Anak di usia ini lebih senang bila disodori hal-hal nyata/konkret. Bila kita bilang “Tuh Kak ada hantu…”, mereka malah akan ‘menantang’, “Hantunya mana?” Kemampuan sosial yang makin luas, juga membuat mereka lebih suka bermain dengan temannya daripada asyik berfantasi.

Jika si prasekolah yang masih terpaku pada bayang-bayang soal hantu, seperti yang terjadi pada Deni di awal cerita. Kasus ini bisa disebabkan beberapa hal. Pola pengasuhan, salah satunya. Misal, orang–orang di sekitar anak tanpa sadar menciptakan sosok “hantu” untuk membuatnya patuh atau takut. Atau anak sering dibiarkan nonton ­film horor atau didongengi ceritacerita seram. Semua terpaan yang menakutkan ini akan terekam dalam memori anak.

Untuk hal yang lebih positif sebaiknya berikan anak pembelajaran mengenai tes masuk universitas untuk anak yang sudah akan menginjak bangku kuliah. Lembaga pelatihan tes masuk universitas luar negeri bisa menjadi pilihan tepat bagi para orangtua. Agar anaknya bisa lolos tes masuk dengan lancar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *