Manusia Makhluk Prososial

Sebagai makhluk sosial, sesungguhnya setiap manusia membawa sikap dasar yang disebut prososial. Yaitu secara sukarela terdorong melakukan tindakan yang menguntungkan orang lain, yang dilandasi oleh empati atau rasa kepedulian pada orang lain. Contoh sederhana, di usia bayi, ketika ada seorang bayi menangis, lalu didengar bayi lain, maka bayi yang mendengar ini akan ikutan menangis. Lalu di usia batita, ketika melihat seorang batita melihat batita lain menangis, tanpa sadar ia menghampiri batita tersebut (meski tidak saling mengenal), lalu akan menepuknepuk tangan batita yang menangis itu, seolah ikut bersedih.

Begitu seterusnya. Namun prososial ini lama kelamaan bisa terkikis bila anak-anak tidak mendapat stimulan dan contoh yang tepat, bagaimana seharusnya hidup berbagi alias tidak mementingkan diri sendiri. Jika Mama Papa ingin anaknya tidak bersikap egois, dapat menghargai pikiran, perasaan, dan kepentingan orang lain, maka mulailah dengan menghargai pikiran, perasaan, dan kepentingan anak. Dengan demikian, anak mempunyai contoh/teladan yang membantunya belajar cara-cara dan manfaat dari menghargai pikiran, perasaan, dan kepentingan orang lain.

Manusia Makhluk Sosial

Bila orangtua tidak pernah menghargai anak, akibatnya anak akan merasakan ketidakadilan, kepentingannya tidak ada yang membela atau dianggap tidak penting. Mereka jadi lebih sulit untuk secara sukarela dan senang hati memperhatikan pikiran, perasaan dan kepentingan orang lain. Jadi, pada prinsipnya, kalau kebutuhan anak cukup terpenuhi, anak akan lebih mudah memerhatikan kebutuhan orang lain.

Secara bertahap pula, bantu anak mengenali bahwa di dunia ini ada banyak orang yang masing-masing punya pikiran, perasaan dan kepentingannya sendiri. Hal ini pun faktor penting yang perlu dipertimbangkan pada saat anak berperilaku. Contoh, ketika anak menghadapi konfl ik di sekolah atau menyelesaikan suatu masalah, orangtua dapat membantu anak dengan cara mendiskusikannya mengenai sikap-sikap egois maupun empati.

Mama Papa perlu tahu, keterampilan berempati harus terus dilatihkan pada anak. Caranya, dengan pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana anak mau berbagi dengan saudara, mau memahami apa yang saat itu diinginkan dan dibutuhkan adik/kakak, menolong teman yang kesusahan, ikut serta dalam kegiatan sosial di sekolah, dan kegiatan-kegiatan lain yang aktivitasnya dapat menumbuhkan kepedulian atau empati.

Anak yang memiliki keterampilan berempati, dinilai lebih mudah menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. Mereka juga lebih disukai dan diterima di lingkungan sosial karena anak-anak ini lebih mudah bergaul, bekerja sama, dapat menyelesaikan masalah dan konfl ik secara adil, dan menghargai keberadaan orang lain. Nah, tentunya setiap Mama Papa ingin memiliki anak dengan kualitas-kualitas di atas bukan? Oleh sebab itu, pupuklah kepedulian sejak dini.

Simak juga portal gaya hidup untuk lebih mendapatkan wawasan mengenai cara hidup yang sehat dan benar.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *