Pura Batu Bolong 

“You can see Bali in Lombok, but you cannot see Lombok in Bali” – unknown

Sebaris ungkapan kalimat di atas sangat populer di kalangan traveler yang mencoba membandingkan Pulau Bali dan tetangganya Pulau Lombok. Tentunya mereka yang membandingkannya sama sekali tidak bermaksud meremehkan salah satu dari kedua pulau nan indah itu.

Tetapi untuk mereka yang sudah pernah meng-explore kedua pulau tersebut sepertinya akan sepakat kalau quote di atas memang cukup cocok menggambarkan perbandingannya.

Masa sih? Yuk kita coba telisik.

Kita mulai dari budayanya yah.

Sekilas Tentang Lombok

Icon Lombok

“Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di dalamnya baik konflik internal, yaitu peperangan antar kerajaan di Lombok maupun ekternal yaitu penguasaan dari kerajaan di luar pulau Lombok.

Perkembangan era Hindu, Buddha, memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang Hindu, dan Bayan. Kerajaan-kerajaan tersebut dalam perjalannya di tundukan oleh penguasa dari kerajaan Majapahit saat ekspedisi Gajah Mada di abad XIII – XIV dan penguasaan kerajaan Gel – Gel dari Bali pada abad VI.

Antara Jawa, Bali dan Lombok mempunyai beberapa kesamaan budaya seperti dalam bahasa dan tulisan. Jika di telusuri asal – usul mereka banyak berakar dari Hindu Jawa. Hal itu tidak lepas dari pengaruh penguasaan kerajaan Majapahit yang kemungkinan mengirimkan anggota keluarganya untuk memerintah atau membangun kerajaan di Lombok.

Pengaruh Bali memang sangat kental dalam kebudayaan Lombok hal tersebut tidak lepas dari ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan Bali sekitar tahun 1740 di bagian barat pulau Lombok dalam waktu yang cukup lama. Sehingga banyak terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan kebudayaan kaum pendatang.

Hal tersebut dapat dilihat dari terjelmanya genre – genre campuran dalam kesenian. Banyak genre seni pertunjukan tradisional berasal atau diambil dari tradisi seni pertunjukan dari kedua etnik. Sasak dan Bali saling mengambil dan meminjam sehingga terciptalah genre kesenian baru yang menarik dan saling melengkapi”

(source : https://oediku.wordpress.com/2010/12/29/sejarah-dan-asal-usul-lombok/)

Bali dan Lombok

Pura Batu Bolong 

Dari kutipan di atas kita dapat memahami dengan jelas mengapa ada begitu banyak pura persembahyangan dan perkampungan masyarakat hindu Bali di Pulau Lombok.

Beranjak ke lokasi wisata. Kalau di Bali ada Pantai Kuta, di Lombok pun ada Pantai Kuta Mandalika. Kalau di Bali ada Uluwatu dan tebing-tebing eksotisnya, maka di Lombok ada Spot wisata Tanjung Ringgit dengan karakteristik yang nyaris sama.

Ubud Bali terkenal dengan sistem terasiring pada persawahannya, sedangkan di Lombok ada Tete Batu di Lombok Timur. Gunung Batur dan danaunya ada di Kintamani Bali, sementara di Lombok ada Gunung Rinjani dan danau segara anak.

Bila di Bali ada Pura Tanah Lot yang berada di sisi pantai, maka di Lombok ada Pura Batu Bolong. Kedua Pura ini sama-sama menjadi salah satu icon wisata dan budaya.

BACA JUGA: Jabal Magnet Di Gunung Kelud

Pura Batu Bolong

Pura Batu Bolong 

Pura Batu Bolong adalah pura persembahyangan masyarakat beragama Hindu yang berada di kawasan Senggigi, Lombok Barat.

Berjarak +- 15km dari pusat Kota Mataram, pura ini dibangun diperkirakan pada abad ke-XV oleh Danghyang Nirartha atau dikenal juga dengan nama Pedanda Sakti Wahu Rawuh, Resi Dwijendra dan Tuan Semeru.

Berwisata ke Pura Batu Bolong seperti berwisata dengan banyak bonus. Karena selain berwisata spiritual (khususnya bagi wisatawan beragama Hindu), kita dapat belajar sejarah budaya dan juga bonus menikmati pemandangan nan eksotis.

Pura batu Bolong ini terdiri dari dua bangunan pura. Pura pertama bernama Pura Ratu Gede Mas Mecaling, terletak di bawah pohon dan berada di dekat pintu masuk setelah menuruni anak tangga.

Dan pura kedua berada di atas karang yang tingginya kurang lebih 4 meter berada di posisi yang sedikit menjorok ke laut. Ada beberapa patung yang terdapat di pura ini adalah patung Subali, Sugriwa, Rama, Laksmana dan patung Naga.

Pura batu Bolong memiliki makna tradisi budaya yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali di Lombok. Seperti ketika saat lebaran topat(seminggu setelah lebaran idul fitri) tiba, umat muslim di Lombok akan datang beramai-ramai ke pantai salah satunya ke pantai di depan pura batu bolong.

Masyarakat beramai-ramai piknik keluarga sambil menikmati opor ayam dan ketupat. Kerukunan antara umat Islam dan Hindu yang terpancar nyata menunjukkan bahwa mereka dapat hidup berdampingan secara harmonis. Indahnya keberagaman itu.

BACA JUGA: Doa Memindahkan Hujan Ketempat Lain

Tips dan Imbauan

Pura Batu Bolong 

Sebagai catatan jika ingin mengunjungi pura Batu Bolong yaitu setiap pengunjung diharuskan mentaati aturan seperti wajib menggunakan selendang kuning yang dililitkan pada pinggang dan bagi wanita yang sedang datang bulan dilarang untuk masuk ke pura. Dan pengunjung dipersilahkan secara sukarela untuk menyumbang uang sebagai dana perawatan dan kebersihan pura.

Posisi Pura Batu Bolong yang berada di Kawasan Senggigi ini benar-benar strategis. Kita dapat melihat sudut Pantai Senggigi nan cantik dari Pura. Posisi Pura yang menghadap barat jelas sangat menguntungkan, karena ketika cuaca cerah siluet Gunung Agung di Bali pun dapat terlihat.

Kita juga dapat menikmati sunset yang indah dari sini. Dari Bandara Internasional Praya, kita dapat menggunakan taksi, ataupun DAMRI langsung ke depan pura. Its so easy to get here.

SUMBER: Islamiyyah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *